Vol. 3 No. 6, Juli 2013 - TANTANGAN BAGI PERUSAHAAN DALAM PENGAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP a/d PSAK 16 Revisi 2011 ( Bersumber dari IFRS / IAS 16 )

Written by Purwanto on . Posted in Jurnal Akuntansi

TANTANGAN BAGI PERUSAHAAN DALAM PENGAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP a/d PSAK 16 Revisi 2011

( Bersumber dari IFRS / IAS 16 )

 

Purwanto

Dosen Tetap Program Studi Akuntansi

POLITEKNIK LP3I BANDUNG

 

ABSTRAKSI

Dengan memperhatikan semakin maraknya negara2 lain seperti Uni Eropa, Australia, Singapura, Hongkong mengadopsi IFRS secara penuh, maka pada tahun 2006 dalam kongres IAI X di Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS akan diselesaikan pada tahun 2008. Namun dalam realisasinya ternyata tidak mudah. Sampai akhir tahun 2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari total 33 standar.

Sejak pertengahan 2009, proses konvergensi / adopsi IFRS mengalami percepatan. Sampai Januari 2012, DSAK-IAI ( Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia ) telah menerbitkan sebagian besar IFRS / IAS dalam exposure PSAK yang baru dan mencabut beberapa PSAK yang sudah tidak relevan. Hal ini juga sebagai prasyarat bagian dari Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA ) 2015.

Khusus tentang PSAK 16 Revisi 2011 yang bersumber dari IFRS 16 tentang Aset Tetap yang berlaku efektip 01 Januari 2012, disebutkan bahwa perusahaan dalam kebijakan akuntansinya atas aset tetap harus memilih menggunakan MODEL BIAYA atau MODEL REVALUASI. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan, yang selama ini terbiasa pencatatan atas dasar harga perolehan ( historical cost ) sepanjang masa manfaat aset tetap tersebut.